Kamis, 01 Agustus 2013

di hidup aku sekarang.
sudah banyak defini tentang kehidupan yang aku alami sendiri.

salah satunya tentang ILMU,

ILMU itu menurut aku dan mungkin kalian udah bosen mendengarnya tapi ini aku temuin dihidupku sendiri. oke ILMU adalah AMANAH dari ALLAH,
ngga sembarang orang diberi AMANAH oleh ALLAH.
ex. rasulullah diberi AMANAH oleh ALLAH untuk mengenalkan, menyebarkan agama islam, kenapa rasul yang diberi AMANAH itu? jawabanya karena ALLAH tahu rasulullah bisa and sanggup menerima AMANAH itu.
and realita yang harus aku alami sekarang.
KAMU PANTAS NGGA DIBERI AMANAH ITU?
"rasulullah diberi AMANAH oleh ALLAH untuk mengenalkan, menyebarkan agama islam"
klo kamu diberi AMANAH berupa ILMU apa kamu udah bisa and siap buat menyebarkan ILMU ALLAH itu.
jangan selalu lihat orang yang berada diatas kamu,
coba lihat orang yang berada di bawah kamu.
dan kamu akan tahu betapa besar nikmat yang ALLAH berikan padamu.

bagaimana cara kita untuk pantas diberi AMANAH itu.
  • kerja keras
  • berdo'a
apa kerja keras kamu udah bisa melebihi orang-orang lain,
apa do'a kamu udah lebih dari orang-orang lain.
sampai kamu udah merasa pantas untuk diberi  AMANAH itu.
 

Minggu, 16 Juni 2013

cerpen gue

ngga tahu gue yang lebay atau apalah, gue cukup terharu dengan cerpen yang gue buat sendiri sekitar 1 tahun. emang sih, ceritanya basi, tapi gue bangga. nih cerpennya


hidup ini indah,kawan

Pagi ini terlihat biasa.
Aku bangun dari tidurku, mandi, sarapan pagi, berangkat sekolah dan pulang kerumah. Rutinitas biasaku yang sangat membosankan. dengan waktu yang selalu menggiringku untuk melakukan semua kegiatan membosankan itu. Aku lelah aku ingin waktu berhenti dan aku bisa melakukan apapun yang aku suka. Tapi sayang semua itu hanya sebuah khayalan kosong yang takkan pernah terjadi.
“hei, sha..” seseorang memanggilku dan menghentikan langkahku menuju kelas. “Kenapa manggil-manggil ? ” jawabku ketus. “aduh muka lo pagi-pagi gini udah cemberut aja sih.” Jawab rista menggodaku. Rista adalah cewek populer di sekolah.”tebar pesona banget sih ni orang.” Kataku dalam hati. Kadang-kadang aku ngga ngerti jalan pikiran cewek ini. Rista berlalu mendahuluiku menuju kelasnya bersama teman-temannya sambil tertawa-tawa. Entah apa yang mereka bicarakan. Aku tak peduli pada meraka.
Mungkin aku memang hanya asik dengan duniaku. Tak  peduli apa yang terjadi dengan orang lain. Apa peduliku tentang mereka yang belum tentu memperdulikanku. Aku pikir aku juga tak dianggap oleh mereka semua. Pikiran omong kosong ini membuatku benci akan mereka semua.
Seorang cewek duduk disampingku dan tersenyum kearahku dengan senyuman terbaiknya. Tapi aku hanya melihatnya sejenak dan kembali meluruskan pandanganku. Kemudian cewek itu berbicara seakan-akan mngajak aku bicara. Tapi aku tak menggubrisnya. cewek disampingku ini bernama Ninda. Dia adalah temanku sejak kecil. yang selalu setia berteman denganku. Sabar dengan seluruh sikapku. Entah sampai kapan ia mau berteman denganku. Yang aku tau, Aku tak butuh seorang teman atau siapapun yang berada disampingku. Aku hanya butuh I-pod dan sebuah buku untuk menemani hidupku.
Ninda selalu ada bersamaku suka ataupun tidak suka dia tetap mengikutiku terkadang aku bosan dengannya atau mungkin marah padanya. Tapi dia tetap mau menjadi temanku. Seseorang yang sangat baik padaku. Tapi sayang aku tak bisa membalas semua kebaikannya.
Suatu ketika ninda tidak masuk kelas.
“sha, Temen lo Ninda kemana ?” tanya salah satu temen kelas Ninda. Sebenernya temen kelasku juga tapi aku ngga pernah kenal sama dia. “mana gue tau. Emang gue ibunya.” jawabku ketus tanpa memandang seseorang yang bertanya tadi.” Yaah, lo kan temen deketnya masa lo ngga tau.” Tanya orang itu lagi.” Gue bilang ngga tau ya ngga tau. Dan satu lagi gue ngga pernah menganggap bahwa Ninda adalah temen gue mungkin selama ini dianya aja kali yang menganggap bahwa gue temennya dia.” Jawabku sinis. “ waah, lo jadi orang parah banget.” Kata orang itu “duuh ni orang berisik banget sih.” kataku dalam hati. Aku langsung memasang headphoneku dan orang itupun berlalu.


Keesokan harinya dan hari selanjutnya ninda tak kunjung datang ke sekolah. Tapi pada hari ke-3 dia masuk sekolah. Mejaku penuh dengan orang  yang mengerubungi meja ninda. Karena mejaku disamping meja ninda mejaku juga ikutan ramai. “haaaah sial.”  Kataku dalam hati. Setelah langkahku mendekati mejaku semua orang menyingkir. “ yah baguslah kaau orang-orang itu mengerti.” Kataku dalam hati. setelah semua orang bubar dari meja Ninda. Ninda menatapku dalam-dalam dan menyentuh pundakku. Seakan memanggilku karena aku menggunakan headphone. Tanpa menoleh padanya aku melepas headphoneku. Seakan menyahut panggilannya. “ sha, apa kabar ?” tanya ninda dengan suara yang lemah. Suatu pertanyaan yang harusnya aku yang menanyakan itu padanya. “baik.” Jawabku singkat  tanpa menoleh padanya. “hmm, syukur deh kalo gitu.” kata Ninda. Sebelum dia melanjutkan pembicaraan aku langsung menggunakan headphoneku kembali. Mungkin Ninda tau bahwa aku sedang tidak mau bicara. Ninda pun terlihat diam dan hanya menulis-nulis buku yang ada diatas mejanya.
“ Ninda..Ninda.. kasian banget sih jadi lo.. punya temen kayak shasha. Dia menganggap kamu temennya dia aja ngga. Udahlah kenapa sih lo betah banget jadi temennya dia. Dia tuh ngga pernah perduli sama lo. Makan hati aja tau ngga sih temenan sama dia.” Terdengar suara Rista didalam kamar mandi. Aku segera menghentikan langkahku. “ tersiksa, menderita itu mungkin.”  sekarang terdengar suara Ninda. Setelah mendengar Ninda mengatakan itu. Aku segera meninggalkan toilet itu. Aku tak menyangka bahwa Ninda teman sejak kecilku ternyata hanya berpura-pura menjadi temanku selama ini. Aku tak bisa memungkiri bahwa hatiku sangat sedih. Tapi bukannya aku memang tidak mempedulikan dia selama ini. Tapi itu tetap menyakitkan. Aku benci, marah dan kecewa padanya.
Aku berlari kekelas. Aku mencoba menutupi kesedihanku. Bel masuk berbunyi semua anak masuk kekelas termasuk Ninda. Aah aku muak melihatnya. Dia menghampiri mejanya  yang berada disampingku. Aku tak bisa duduk disamping seorang pendusta. Ketika Ninda baru mau duduk. Kursi yang akan diduduki Ninda aku tendang sedikit menggeser posisi bangku tersebut. Ninda sedikit kaget dan tetap menduduki bangku tersebut. Ketika Ninda menduduki bangkunya aku segera berdiri dan pindah tempat duduk. Ninda melihatku pindah bertambah bingung.
Aku memilih bangku yang sangat jauh darinya.
Pada saat bel berbunyi pertanda pulang. Murid-murid keluar kelas dan saat itu Ninda menghampiriku. “ sha, ayo pulang!” Kata Ninda mengajak aku pulang. Aku hanya diam tidak menggubris ajakan Ninda. “sha. Kamu kenapa sih?” tanya Ninda dengan wajah penasaran sambil duduk disampingku. Sebelum Ninda melanjutkan pertanyaan aku segera bangun tanpa mempedulikannya yang sudah hampir mau menangis.
mungkin Ninda sudah merasa bahwa aku menjauh darinya.
Keesokan harinya tak ada yang berubah dari sikapku pada Ninda. Tetap dingin seperti kemarin. Entah sampai kapan aku akan bersikap seperti ini padanya mungkin selamanya.


Dan hari berikutnya Ninda tidak masuk sekolah sampai seminggu ninda tidak masuk sekolah. Haah apa peduliku padanya.
Hari ini aku ingi pulang berjalan kaki. Pada saat melewati taman bermain aku teringat bahwa ini taman bermain tempat aku bermain bersama Ninda. Tiba-tiba sebuah bola menggelinding ke arahku. Aku mengambilnya dan memperhatikan bola itu sejenak dan mengembalikan bola tersebut keanak-anak yang sedang bermain bola. Salah seorang anak menendang bola itu sampai ketengah jalan raya. Dan permainan terhenti sejenak. Salah seorang anak mengambilnya ke jalanan yang sepi lengang tanpa kendaraan yang melewati jalan tersebut. Dan tiba-tiba ada sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi berada di ujung jalan. Dan tepat anak yang sedang mengambil bola itu berada ditengah jalan. Tanpa berpikir panjang aku langsung berlari menuju anak itu. Yang aku pikirkan adalah anak itu harus selamat. Dan BRAKKKK…. Sesuatu yang keras menghantam tubuhku. Aku melihat anak itu selamat dan aku merasa bahwa Ninda sedang memeluk tubuhku. Entah apa yang terjadi padaku. Pandanganku gelap dan rasa sakit menjalar keseluruh tubuhu.
Aku merasa tubuhku sakit. Dan berapa lama aku tak sadar. Pandanganku gelap apa aku belum sadar. Aku ingin bangun. Aku berusaha berteriak untuk bangun. Dan tiba-tiba terdengar suara parau yang berada disampingku berkata “ tenang sha kamu ngga sendiri disini.” Sepertinya aku mengenal suara itu. Itu seperti suara bibi pembantu dirumahku. Terbesit dipikiranku jangan-jangan aku buta. Aku langsung shok terdiam sebentar dan aku mulai menangis. Sekarang duniaku bukan hanya sepi tapi juga gelap. Entah mengapa aku semakin membenci hidupku sendiri.
Keesokan harinya Ninda datang menjenguk.
“hai sha, apa kabar ?” tanya ninda. Sebuah pertanyaan yang membuatku sangat kesal. Apa maksud dia menanyakan kabarku. Apa dia ingin memperolokku dengan keadaanku yang buta seperti ini. “ngapain kamu kesini? Kalo hanya untuk menanyakan keadaanku saja lebih baik kamu keluar dari ruangan ini.” Jawabku dengan tegas. “ kamu kenapa sih sha, aku salah apa sha? sampai kamu menjauh dari aku.” Tanya ninda setengah menangis. “ kamu ngga usah sok sok menangis deh depan aku. Air mata kamu tuh penuh kebohongan. Sebenernya kamu ngga usah berpura-pura untuk jadi temanku. Karena aku ngga butuh seorang teman. Apa lagi kamu .”  jawab ku sinis. “ haaah, berpura-pura. Kamu bilang aku berpura-pura jadi temen kamu sha?” dengan kaget Ninda menjawab. “ngga pernah terlintas sedikit pun dipikiranku bahwa berteman denganmu hanya berpura-pura” kata Ninda dengan menangis. ”ah sudahlah aku ngga butuh omong kosong yang seperti kamu bilang. Lebih baik kamu keluar dari sini.” Kataku setengah berteriak. Terdengar suara tangis Ninda keluar ruangan.
                AKU BENCI PADANYA.
Setelah sebulan berlalu akhirnya aku mendapat donor mata. Entah siapa yang mendonorkannya. Dan akhirnya aku bisa melihat lagi. Rasanya saat-saat aku buta adalah mimpi buruk bagiku dan kini aku telah terbangun dari mimpi buruk itu. Sekarang aku bisa melihat lagi. Rasa senang menyelimuti hatiku. Aku bisa sekolah lagi dan bisa menjalani rutinitas biasaku. Sekarang aku merasa rindu dengan rutinitas yang membuatku bosann
Ketika hari pertamaku disekolah. Aku mendapat kejutan yang aku tak pernah menyangkanya. Ternyata aku dianggap di kelas yang tak pernah aku pedulikan ini. Semua orang memberi selamat kepadaku tapi ada yang aneh. Kemana ninda?  kenapa dia tidak ada ?. yasudahlah untuk apa aku peduli padanya. Dia hanya seorang pendusta.
Setelah seminggu aku sekolah Ninda tak kunjung datang kesekolah. Apa yang terjadi padanya. Saat bel tanda pulang berbunyi semua anak keluar ruangan. Aku menghampiri bangku yang biasa diduduki Ninda. Ketika aku tidak sengaja menggeser meja ninda. Sebuah buku terjatuh dari kolong meja Ninda. Aku mengambil buku tersebut dan tertulis didepan buku tersebut UNTUK TEMANKU SALSABILA PUTRI AYUNDA. Aku membawa buku tersebut untuk aku baca dirumah.
Untuk temanku shasha
Sha, mengenalmu adalah keajaiban bagiku.
Sha, menjadi temanmu adalah suatu hal yang terindah bagiku.
Sha, kamu adalah motivasiku untuk tetap tegar.
Aku menulis buku ini agar aku bisa merasakan hal yang sama saat aku berbicara padamu

Sha,, kenapa harimu? Buruk?,
Terlihat jelas di wajahmu

Sha ada suatu hal yang aku ingin ceritakan padamu.
Kau ingat saat aku tidak masuk beberapa hari yang lalu. Aku ingin sekali cerita padamu tapi ternyata kau sibuk dan tidak sempat. kau tahu sha, aku terkena kanker darah stadium 3.
Tapi sepertinya kau takkan pedulikan ini.
Sha ,, aku tak pernah menyesal sedikitpun menjadi teman mu . sekalipun Rista menggodaku untuk tidak berteman denganmu lagi. Tapi aku akan tetap berteman denganmu sha, 
Sha,, kenapa kau menjauh dariku,, apa salahku sha,, apa aku terlalu buruk menjadi temanmu.
Suka ataupun tidak suka aku akan tetap menjadi temanmu dan mengikutimu.
Aku sudah menduga kau adalah orang yang baik. Sifat dinginmu tidak akan merubah kepribadianmu yang baik. Ketika terjadi kecelakaan itu aku ada sha, ada dibelakangmu. Aku tak menyangka kecelakaan itu menyebabkan penglihatanmu hilang.
Aku menjengukmu karena aku juga dirawat dirumah sakit itu. Tapi kau malah mengusirku.
Aku sama sekali tidak membencimu sha,
Aku kasihan melihatmu berubah sejak ibu dan kakakmu meninggal. kau lebih suka sendiri menjauh dari duniamu. Sekarang duniamu yang sepi bertambah dengan kegelapan.
Aku tidak mau itu terjadi padamu yang semakin membenci duniamu.
Maka inilah pilihanku.
Membaca buku ini tak terasa air mataku membasahi pipiku. Segera aku berlari menuju rumah Ninda. Sesampainya disana yang ada dirumah Ninda hanya ibunya. Tanpa basa basi aku langsung menyanyakan dimana Ninda. Dan ibunya dengan tenang berkata “Ninda telah pergi bersama kanker yang dideritanya 1 bulan yang lalu.” mendengar itu aku tidak percaya dan pamit pulang pada ibu Ninda. Diperjalanan aku menangis tak kuasa kutahan air mata yang membendung di kelopak mataku.
Tak terasa buku itu jatuh dari tanganku dan keluar sebuah kertas dari buku itu. Aku membacanya
Sha,, kau adalah orang baik,, apakah kau ingat saat kita bermain diatas bukit kau buatkanku kalung yang indah dari tanaman, kemudian kita menguburnya diatas bukit,
Aku memilih untuk mendonorkan mataku. Padamu .. terimalah.
Pesanku
Jagalah mataku dan nikmatilah dunia ini, dengan keindahan yang kau lihat,
Bukalah mata hatimu ,, dan rasakan indahnya dunia,,,,


Aku berdiri diatas bukit kita nin,, merasakan hembusan angiin yang membelai rambutku,,
HIDUP INI INDAH ,KAWAN.


Mutia sayyidah X ipa 4