ngga tahu gue yang lebay atau apalah, gue cukup terharu dengan cerpen yang gue buat sendiri sekitar 1 tahun. emang sih, ceritanya basi, tapi gue bangga. nih cerpennya
hidup ini indah,kawan
Pagi ini
terlihat biasa.
Aku bangun
dari tidurku, mandi, sarapan pagi, berangkat sekolah dan pulang kerumah.
Rutinitas biasaku yang sangat membosankan. dengan waktu yang selalu
menggiringku untuk melakukan semua kegiatan membosankan itu. Aku lelah aku
ingin waktu berhenti dan aku bisa melakukan apapun yang aku suka. Tapi sayang
semua itu hanya sebuah khayalan kosong yang takkan pernah terjadi.
“hei, sha..”
seseorang memanggilku dan menghentikan langkahku menuju kelas. “Kenapa
manggil-manggil ? ” jawabku ketus. “aduh muka lo pagi-pagi gini udah cemberut
aja sih.” Jawab rista menggodaku. Rista adalah cewek populer di sekolah.”tebar
pesona banget sih ni orang.” Kataku dalam hati. Kadang-kadang aku ngga ngerti
jalan pikiran cewek ini. Rista berlalu mendahuluiku menuju kelasnya bersama
teman-temannya sambil tertawa-tawa. Entah apa yang mereka bicarakan. Aku tak
peduli pada meraka.
Mungkin aku
memang hanya asik dengan duniaku. Tak peduli apa yang terjadi dengan
orang lain. Apa peduliku tentang mereka yang belum tentu memperdulikanku. Aku
pikir aku juga tak dianggap oleh mereka semua. Pikiran omong kosong ini membuatku
benci akan mereka semua.
Seorang
cewek duduk disampingku dan tersenyum kearahku dengan senyuman terbaiknya. Tapi
aku hanya melihatnya sejenak dan kembali meluruskan pandanganku. Kemudian cewek
itu berbicara seakan-akan mngajak aku bicara. Tapi aku tak menggubrisnya. cewek
disampingku ini bernama Ninda. Dia adalah temanku sejak kecil. yang selalu
setia berteman denganku. Sabar dengan seluruh sikapku. Entah sampai kapan ia
mau berteman denganku. Yang aku tau, Aku tak butuh seorang teman atau siapapun
yang berada disampingku. Aku hanya butuh I-pod dan sebuah buku untuk menemani
hidupku.
Ninda selalu
ada bersamaku suka ataupun tidak suka dia tetap mengikutiku terkadang aku bosan
dengannya atau mungkin marah padanya. Tapi dia tetap mau menjadi temanku.
Seseorang yang sangat baik padaku. Tapi sayang aku tak bisa membalas semua
kebaikannya.
Suatu ketika
ninda tidak masuk kelas.
“sha, Temen
lo Ninda kemana ?” tanya salah satu temen kelas Ninda. Sebenernya temen kelasku
juga tapi aku ngga pernah kenal sama dia. “mana gue tau. Emang gue ibunya.” jawabku
ketus tanpa memandang seseorang yang bertanya tadi.” Yaah, lo kan temen deketnya
masa lo ngga tau.” Tanya orang itu lagi.” Gue bilang ngga tau ya ngga tau. Dan
satu lagi gue ngga pernah menganggap bahwa Ninda adalah temen gue mungkin
selama ini dianya aja kali yang menganggap bahwa gue temennya dia.” Jawabku
sinis. “ waah, lo jadi orang parah banget.” Kata orang itu “duuh ni orang
berisik banget sih.” kataku dalam hati. Aku langsung memasang headphoneku dan
orang itupun berlalu.
Keesokan
harinya dan hari selanjutnya ninda tak kunjung datang ke sekolah. Tapi pada
hari ke-3 dia masuk sekolah. Mejaku penuh dengan orang yang mengerubungi
meja ninda. Karena mejaku disamping meja ninda mejaku juga ikutan ramai.
“haaaah sial.” Kataku dalam hati. Setelah langkahku mendekati mejaku
semua orang menyingkir. “ yah baguslah kaau orang-orang itu mengerti.” Kataku
dalam hati. setelah semua orang bubar dari meja Ninda. Ninda menatapku
dalam-dalam dan menyentuh pundakku. Seakan memanggilku karena aku menggunakan
headphone. Tanpa menoleh padanya aku melepas headphoneku. Seakan menyahut
panggilannya. “ sha, apa kabar ?” tanya ninda dengan suara yang lemah. Suatu
pertanyaan yang harusnya aku yang menanyakan itu padanya. “baik.” Jawabku
singkat tanpa menoleh padanya. “hmm, syukur deh kalo gitu.” kata Ninda.
Sebelum dia melanjutkan pembicaraan aku langsung menggunakan headphoneku
kembali. Mungkin Ninda tau bahwa aku sedang tidak mau bicara. Ninda pun terlihat
diam dan hanya menulis-nulis buku yang ada diatas mejanya.
“ Ninda..Ninda..
kasian banget sih jadi lo.. punya temen kayak shasha. Dia menganggap kamu
temennya dia aja ngga. Udahlah kenapa sih lo betah banget jadi temennya dia.
Dia tuh ngga pernah perduli sama lo. Makan hati aja tau ngga sih temenan sama
dia.” Terdengar suara Rista didalam kamar mandi. Aku segera menghentikan
langkahku. “ tersiksa, menderita itu mungkin.” sekarang terdengar suara
Ninda. Setelah mendengar Ninda mengatakan itu. Aku segera meninggalkan toilet
itu. Aku tak menyangka bahwa Ninda teman sejak kecilku ternyata hanya
berpura-pura menjadi temanku selama ini. Aku tak bisa memungkiri bahwa hatiku
sangat sedih. Tapi bukannya aku memang tidak mempedulikan dia selama ini. Tapi
itu tetap menyakitkan. Aku benci, marah dan kecewa padanya.
Aku berlari
kekelas. Aku mencoba menutupi kesedihanku. Bel masuk berbunyi semua anak masuk
kekelas termasuk Ninda. Aah aku muak melihatnya. Dia menghampiri mejanya
yang berada disampingku. Aku tak bisa duduk disamping seorang pendusta. Ketika
Ninda baru mau duduk. Kursi yang akan diduduki Ninda aku tendang sedikit
menggeser posisi bangku tersebut. Ninda sedikit kaget dan tetap menduduki
bangku tersebut. Ketika Ninda menduduki bangkunya aku segera berdiri dan pindah
tempat duduk. Ninda melihatku pindah bertambah bingung.
Aku memilih
bangku yang sangat jauh darinya.
Pada saat
bel berbunyi pertanda pulang. Murid-murid keluar kelas dan saat itu Ninda
menghampiriku. “ sha, ayo pulang!” Kata Ninda mengajak aku pulang. Aku hanya
diam tidak menggubris ajakan Ninda. “sha. Kamu kenapa sih?” tanya Ninda dengan
wajah penasaran sambil duduk disampingku. Sebelum Ninda melanjutkan pertanyaan
aku segera bangun tanpa mempedulikannya yang sudah hampir mau menangis.
mungkin Ninda
sudah merasa bahwa aku menjauh darinya.
Keesokan
harinya tak ada yang berubah dari sikapku pada Ninda. Tetap dingin seperti
kemarin. Entah sampai kapan aku akan bersikap seperti ini padanya mungkin
selamanya.
Dan hari
berikutnya Ninda tidak masuk sekolah sampai seminggu ninda tidak masuk sekolah.
Haah apa peduliku padanya.
Hari ini aku
ingi pulang berjalan kaki. Pada saat melewati taman bermain aku teringat bahwa
ini taman bermain tempat aku bermain bersama Ninda. Tiba-tiba sebuah bola
menggelinding ke arahku. Aku mengambilnya dan memperhatikan bola itu sejenak
dan mengembalikan bola tersebut keanak-anak yang sedang bermain bola. Salah
seorang anak menendang bola itu sampai ketengah jalan raya. Dan permainan
terhenti sejenak. Salah seorang anak mengambilnya ke jalanan yang sepi lengang
tanpa kendaraan yang melewati jalan tersebut. Dan tiba-tiba ada sebuah mobil
melaju dengan kecepatan tinggi berada di ujung jalan. Dan tepat anak yang
sedang mengambil bola itu berada ditengah jalan. Tanpa berpikir panjang aku
langsung berlari menuju anak itu. Yang aku pikirkan adalah anak itu harus
selamat. Dan BRAKKKK…. Sesuatu yang keras menghantam tubuhku. Aku melihat anak
itu selamat dan aku merasa bahwa Ninda sedang memeluk tubuhku. Entah apa yang
terjadi padaku. Pandanganku gelap dan rasa sakit menjalar keseluruh tubuhu.
Aku merasa
tubuhku sakit. Dan berapa lama aku tak sadar. Pandanganku gelap apa aku belum
sadar. Aku ingin bangun. Aku berusaha berteriak untuk bangun. Dan tiba-tiba
terdengar suara parau yang berada disampingku berkata “ tenang sha kamu ngga
sendiri disini.” Sepertinya aku mengenal suara itu. Itu seperti suara bibi
pembantu dirumahku. Terbesit dipikiranku jangan-jangan aku buta. Aku langsung
shok terdiam sebentar dan aku mulai menangis. Sekarang duniaku bukan hanya sepi
tapi juga gelap. Entah mengapa aku semakin membenci hidupku sendiri.
Keesokan
harinya Ninda datang menjenguk.
“hai sha,
apa kabar ?” tanya ninda. Sebuah pertanyaan yang membuatku sangat kesal. Apa
maksud dia menanyakan kabarku. Apa dia ingin memperolokku dengan keadaanku yang
buta seperti ini. “ngapain kamu kesini? Kalo hanya untuk menanyakan keadaanku
saja lebih baik kamu keluar dari ruangan ini.” Jawabku dengan tegas. “ kamu
kenapa sih sha, aku salah apa sha? sampai kamu menjauh dari aku.” Tanya ninda
setengah menangis. “ kamu ngga usah sok sok menangis deh depan aku. Air mata
kamu tuh penuh kebohongan. Sebenernya kamu ngga usah berpura-pura untuk jadi
temanku. Karena aku ngga butuh seorang teman. Apa lagi kamu .” jawab ku
sinis. “ haaah, berpura-pura. Kamu bilang aku berpura-pura jadi temen kamu
sha?” dengan kaget Ninda menjawab. “ngga pernah terlintas sedikit pun dipikiranku
bahwa berteman denganmu hanya berpura-pura” kata Ninda dengan menangis. ”ah
sudahlah aku ngga butuh omong kosong yang seperti kamu bilang. Lebih baik kamu
keluar dari sini.” Kataku setengah berteriak. Terdengar suara tangis Ninda
keluar ruangan.
AKU BENCI PADANYA.
Setelah
sebulan berlalu akhirnya aku mendapat donor mata. Entah siapa yang
mendonorkannya. Dan akhirnya aku bisa melihat lagi. Rasanya saat-saat aku buta
adalah mimpi buruk bagiku dan kini aku telah terbangun dari mimpi buruk itu.
Sekarang aku bisa melihat lagi. Rasa senang menyelimuti hatiku. Aku bisa
sekolah lagi dan bisa menjalani rutinitas biasaku. Sekarang aku merasa rindu
dengan rutinitas yang membuatku bosann
Ketika hari
pertamaku disekolah. Aku mendapat kejutan yang aku tak pernah menyangkanya.
Ternyata aku dianggap di kelas yang tak pernah aku pedulikan ini. Semua orang
memberi selamat kepadaku tapi ada yang aneh. Kemana ninda? kenapa dia tidak ada ?. yasudahlah untuk apa
aku peduli padanya. Dia hanya seorang pendusta.
Setelah
seminggu aku sekolah Ninda tak kunjung datang kesekolah. Apa yang terjadi
padanya. Saat bel tanda pulang berbunyi semua anak keluar ruangan. Aku menghampiri
bangku yang biasa diduduki Ninda. Ketika aku tidak sengaja menggeser meja
ninda. Sebuah buku terjatuh dari kolong meja Ninda. Aku mengambil buku tersebut
dan tertulis didepan buku tersebut UNTUK TEMANKU SALSABILA PUTRI AYUNDA. Aku
membawa buku tersebut untuk aku baca dirumah.
Untuk
temanku shasha
Sha,
mengenalmu adalah keajaiban bagiku.
Sha, menjadi
temanmu adalah suatu hal yang terindah bagiku.
Sha, kamu
adalah motivasiku untuk tetap tegar.
Aku menulis
buku ini agar aku bisa merasakan hal yang sama saat aku berbicara padamu
Sha,, kenapa
harimu? Buruk?,
Terlihat
jelas di wajahmu
Sha ada
suatu hal yang aku ingin ceritakan padamu.
Kau ingat
saat aku tidak masuk beberapa hari yang lalu. Aku ingin sekali cerita padamu
tapi ternyata kau sibuk dan tidak sempat. kau tahu sha, aku terkena kanker
darah stadium 3.
Tapi
sepertinya kau takkan pedulikan ini.
Sha ,, aku
tak pernah menyesal sedikitpun menjadi teman mu . sekalipun Rista menggodaku
untuk tidak berteman denganmu lagi. Tapi aku akan tetap berteman denganmu
sha,
Sha,, kenapa
kau menjauh dariku,, apa salahku sha,, apa aku terlalu buruk menjadi temanmu.
Suka ataupun
tidak suka aku akan tetap menjadi temanmu dan mengikutimu.
Aku sudah
menduga kau adalah orang yang baik. Sifat dinginmu tidak akan merubah
kepribadianmu yang baik. Ketika terjadi kecelakaan itu aku ada sha, ada
dibelakangmu. Aku tak menyangka kecelakaan itu menyebabkan penglihatanmu
hilang.
Aku
menjengukmu karena aku juga dirawat dirumah sakit itu. Tapi kau malah
mengusirku.
Aku sama
sekali tidak membencimu sha,
Aku kasihan
melihatmu berubah sejak ibu dan kakakmu meninggal. kau lebih suka sendiri
menjauh dari duniamu. Sekarang duniamu yang sepi bertambah dengan kegelapan.
Aku tidak
mau itu terjadi padamu yang semakin membenci duniamu.
Maka inilah
pilihanku.
Membaca buku
ini tak terasa air mataku membasahi pipiku. Segera aku berlari menuju rumah Ninda.
Sesampainya disana yang ada dirumah Ninda hanya ibunya. Tanpa basa basi aku
langsung menyanyakan dimana Ninda. Dan ibunya dengan tenang berkata “Ninda
telah pergi bersama kanker yang dideritanya 1 bulan yang lalu.” mendengar itu
aku tidak percaya dan pamit pulang pada ibu Ninda. Diperjalanan aku menangis
tak kuasa kutahan air mata yang membendung di kelopak mataku.
Tak terasa
buku itu jatuh dari tanganku dan keluar sebuah kertas dari buku itu. Aku
membacanya
Sha,, kau
adalah orang baik,, apakah kau ingat saat kita bermain diatas bukit kau
buatkanku kalung yang indah dari tanaman, kemudian kita menguburnya diatas
bukit,
Aku memilih
untuk mendonorkan mataku. Padamu .. terimalah.
Pesanku
Jagalah
mataku dan nikmatilah dunia ini, dengan keindahan yang kau lihat,
Bukalah mata
hatimu ,, dan rasakan indahnya dunia,,,,
Aku berdiri
diatas bukit kita nin,, merasakan hembusan angiin yang membelai rambutku,,
HIDUP INI
INDAH ,KAWAN.
Mutia sayyidah X ipa 4